khlas itu adalah bukan berarti berhenti menyayangi
Artinya saya tidak bisa melakukan segalanya untuk orang lain
Ikhlas itu adalah bukan berarti kita memutuskan hubungan
Tapi itu adalah wujud bahwa kita tidak bisa mengendalikan orang lain
Ikhlas itu adalah bukan tidak bisa
Tapi membiarkan belajar dan konsekuensi
Ikhlas itu adalah bukan tidak mengakui ketidak berdayaan
Yang artinya bahwa hasil akhir tidak berada ditangan kita
Ikhlas bukan untuk mencoba dan merubah atau menyalahkan yang lain
Saya hanya bisa merubah diri saya sendiri
Ikhlas bukanlah untuk mempedulikan,tetapi untuk memperhatikan
Ikhlas bukanlah untuk memperbaiki,tetapi untuk menjadi pendukung
Ikhlas bukan yang menghakimi
Tetapi mengijinkan yang lain untuk jadi manusia
Ikhlas bukanlah untuk berada dipertengahan yang mengatur semua hasil
tetapi mengijinkan orang lain mempengaruhi hasil mereka sendiri
Ikhlas bukan menjadi protektif
Ijinkan orang lain menghadapi kenyataan
Ikhlas bukanlah mengingkari,tetapi menerima
Ikhlas bukan mengomel,cerewet,dan membantah.
tetapi untuk mencari sampai ketemu kekurangan sendiri dan mengoreksinya
Ikhlas bukanlah untuk menyesuaikan segalanya kepada keinginanku
tetapi menggunakan setiap hari yang datang dan mengasihi setiap waktu
bukanlah untuk mengkritik,dan mengatur seseorang
tetapi mencoba untuk menjadi apa yang aku impikan aku dapat
bukanlah untuk menyesali masa lalu
tetapi untuk tumbuh dan hidup untuk masa depan
Ikhlas adalah sedikit rasa takut dan lebih mencintai
Rabu, 24 Februari 2010
Sabtu, 23 Januari 2010
cinta Allah
Cintailah Allah dan berusahalah untuk menggapai cintaNya.Inilah beberapa resep yang menyebabkan seseorang mencintai Allah Ta'ala :
- Membaca Al-Qur'an dengan tadabbur dan memahaminya dengan baik.
- Mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan shalat sunat setelah mendahulukan shalat wajib.
- Selalu dzikirullah (mengingat Allah) dalam segala kondisi dengan hati, lisan dan perbuatan.
- Mengutamakan kehendak Allah di saat berbenturan dengan kehendak hawa nafsu.
- Menanamkan dalam hati nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta'ala dan memahami maknanya.
- Memperhatikan karunia dan kebaikan Allah kepada kita.
- Menundukkan hati dan diri ke haribaan Allah.
- Menyendiri untuk beribadah kepada Allah, bermunajat dan membaca kitab suciNya di waktu malam saat orang lelap tidur.
- Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang shaleh, mengambil hikmah dan ilmu dari mereka.
- Menjauhkan sebab-sebab yang dapat menjauhkan kita daripada Allah.
Mudah-mudahan bermanfaat,mari sama-sama berjuang untuk mencari cinta Allah.
- Membaca Al-Qur'an dengan tadabbur dan memahaminya dengan baik.
- Mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan shalat sunat setelah mendahulukan shalat wajib.
- Selalu dzikirullah (mengingat Allah) dalam segala kondisi dengan hati, lisan dan perbuatan.
- Mengutamakan kehendak Allah di saat berbenturan dengan kehendak hawa nafsu.
- Menanamkan dalam hati nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta'ala dan memahami maknanya.
- Memperhatikan karunia dan kebaikan Allah kepada kita.
- Menundukkan hati dan diri ke haribaan Allah.
- Menyendiri untuk beribadah kepada Allah, bermunajat dan membaca kitab suciNya di waktu malam saat orang lelap tidur.
- Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang shaleh, mengambil hikmah dan ilmu dari mereka.
- Menjauhkan sebab-sebab yang dapat menjauhkan kita daripada Allah.
Mudah-mudahan bermanfaat,mari sama-sama berjuang untuk mencari cinta Allah.
Minggu, 27 Desember 2009
apa
Apakah yang sudah kita jadikan atas diri kita sendiri - sampai saat ini?
Berbahagia kah kita dengan yang sudah kita capai?
Atau, apakah pengertian kita tercampurkan antara kebahagiaan dan ketenangan karena ketidak-sadaran tentang ke-mandeg-an?
Apakah jadinya kita - nanti, adalah hasil dari rencana kita sendiri?
Ataukah kita menyerahkan apa jadinya hidup ini - kepada rencana-rencana orang lain?
Atau, apakah kita membiarkan hidup ini menjadi apa pun jadinya nanti - bukan sebagai sebuah keputusan filosofis yang tegas,
tetapi
sebagai sebuah ke-terserah-an kepada kehidupan yang tidak bisa di-sebut gagal tetapi belum juga bisa disebut berhasil?
Lalu, mohon Anda perhatikan yang satu ini; bila kita meninggalkan kehidupan ini suatu ketika nanti - sebagai apakah kita ingin diingat?
Maka,
Janganlah mensyaratkan perubahan di luar agar Anda bersedia berubah.
Tidak ada perubahan yang bernilai di luar, jika tidak ada perubahan yang berarti di dalam.
Dan berubahlah bukan hanya dengan ukuran yang lebih besar,
tetapi terutama dengan kecepatan yang lebih tinggi dari kecepatan Anda kemarin.
Berbahagia kah kita dengan yang sudah kita capai?
Atau, apakah pengertian kita tercampurkan antara kebahagiaan dan ketenangan karena ketidak-sadaran tentang ke-mandeg-an?
Apakah jadinya kita - nanti, adalah hasil dari rencana kita sendiri?
Ataukah kita menyerahkan apa jadinya hidup ini - kepada rencana-rencana orang lain?
Atau, apakah kita membiarkan hidup ini menjadi apa pun jadinya nanti - bukan sebagai sebuah keputusan filosofis yang tegas,
tetapi
sebagai sebuah ke-terserah-an kepada kehidupan yang tidak bisa di-sebut gagal tetapi belum juga bisa disebut berhasil?
Lalu, mohon Anda perhatikan yang satu ini; bila kita meninggalkan kehidupan ini suatu ketika nanti - sebagai apakah kita ingin diingat?
Maka,
Janganlah mensyaratkan perubahan di luar agar Anda bersedia berubah.
Tidak ada perubahan yang bernilai di luar, jika tidak ada perubahan yang berarti di dalam.
Dan berubahlah bukan hanya dengan ukuran yang lebih besar,
tetapi terutama dengan kecepatan yang lebih tinggi dari kecepatan Anda kemarin.
gelisah
Sebetulnya, apakah yang kau gelisahkan?
Engkau telah mengenal rasa gelisah ini – cukup lama.
Ia membuatmu tidak betul-betul melihat yang kau lihat, membuatmu tidak berada di mana engkau berada, membuatmu melamun dalam keriuhan dunia, dan membuatmu tak sabaran bahkan mengenai hal-hal penting yang akan menyelamatkan mu.
Engkau demikian gelisah, hingga engkau mendengar ada suara, tetapi tidak terdengar seperti suara yang ada artinya. Engkau terlibat, tetapi tidak turut serta.
Engkau sedang merasakan sesuatu yang pedih, tetapi tidak jelas apa yang dipedihkannya, dan untuk apa kepedihan itu.
Yang kau tahu hanyalah hati mu yang pedih. Pandangan mu yang abu-abu dan nanar. Pendengaran mu yang bergumam dengan gema celoteh orang yang dekat tetapi seperti jauh.
Dan dalam kegamangan itu, engkau terkadang berbicara – yang cepat sekali engkau lupa – apa yang kau katakan tadi, dan yang tak jelas apa perannya bagi pencerahan hidupmu.
Rasa yang tidak menenangkan ini sudah cukup lama kau kenal.
Dan setiap kali ia datang bertamu dan mencabut akar-akar ketenangan hatimu, engkau seperti terseret tak bertenaga, turut serta dalam penikmatan perasaan tak berdaya itu.
Engkau mentenagai kegelisahan mu dengan pembayangan kesulitan dan penderitaan yang akan kau alami,
… seolah-olah engkau sedang merencanakan kehidupan yang sulit di masa depan, dan yang kau yakini akan betul-betul terjadi.
………..
Adikku yang hatinya merindukan kasih sayang,
Sini …
Duduklah dekat-dekat dengan ku.
Beritahulah aku, apa yang menggelisahkan mu?
Jika sulit bagi mu untuk berbicara sekarang, bisikkanlah dekat-dekat ke telinga ku.
Aku bisa merasakan beban yang menggelantung dan menarik hati mu ke bawah.
Dan memang rasanya begitu, berat - tetapi tidak kau lihat bebannya, meremat dinding hatimu – tetapi tak kau lihat jemari yang kejam itu, mengiris kulit hatimu – tetapi tak jelas dari mana irisan itu berawal.
Yang kau tahu adalah bahwa engkau sedih. Sedih sekali,
… dan engkau berdiri sendiri dalam kesedihanmu.
………..
Adikku yang hatinya adalah hatiku,
dan yang pedihnya juga adalah pedih ku,
Angkatlah sedikit wajahmu, dan lihatlah aku melalui kebeningan air mata yang menggenang di pelupuk matamu …
Jika engkau memperhatikan, semua kepedihanmu bukanlah kepedihan baru.
Engkau telah pernah merasakannya, bahkan telah beberapa kali dalam hidup mu yang beragam warna itu.
Dulu, engkau pernah merasakan kepedihan yang sangat dalam, dan yang di dasar dari kepedihan itu engkau merintih, berontak, memprotes, dan menyalahkan kehidupan yang berlaku tidak adil kepada mu.
Pernah juga engkau marah kepada Tuhan.
Engkau menuduh-Nya tidak adil, tidak menyayangi mu, membedakan perlakuan untuk mu, dan Tuhan membahagiakan orang lain – bahkan yang tak sebaik diri mu.
Engkau demikian dalam tenggelam dalam kesedihan, dan dalam ketidak-berdayaan mu – bibir hatimu merintih dan melamatkan kata-kata permintaan tolong, yang mungkin tak kau tujukan kepada Tuhan, tetapi tetap juga didengar oleh Tuhan.
Dan kemudian engkau terselamatkan, keluar dari kesedihanmu, dan tertawa riang lagi, aktif terlibat dalam kehidupan, berhasil di sini, dipuji di situ, dan dipuja di sana.
Engkau menarikan kegembiraan hidup, … tanpa pernah menyadari bahwa engkau hanya bisa selamat karena diselamatkan.
Mungkin karena kebiasaan mu untuk melihat dirimu yang tidak penting - saat engkau bersedih, engkau tidak melihat hubungan antara rintihan dan keluhanmu saat bersedih, dengan penyelamatan mu saat itu.
Telah berapa kali-kah engkau diseruakkan keluar dari kesedihan dan penderitaan, dan berlari cepat menuju padang-padang hijau pembahagiaan mu, tanpa melambatkan sedikit langkah mu, dan menundukkan kepala mu, dan melirihkan suaramu, dan berhenti, dan berdiri khusuk … menyampaikan terima kasih kepada Tuhan, yang dengan demikian penuh kasih – mengeluarkan mu dari penderitaan.
Apakah engkau pernah menyempatkan diri untuk berlaku baik kepada-Nya setelah penyelamatan mu dari kesedihan-kesedihan mu dulu?
...........
Berlakulah baik juga kepada Tuhan.
Apakah engkau tidak kasihan kepada-Nya?
Beliau memang tidak butuh kau kasihani, tetapi apakah hatimu tidak merasakan kesemena-menaan mu kepada Tuhan?
Beliau itu sangat mengasihi mu. Sangat memperhatikan mu. Dan sangat memanjakan mu.
Apakah kira-kira perasaan Tuhan saat kau meronta dalam kemarahan mu, merintih dalam kesedihan mu, memprotes dalam kegelisahan mu, dan menuduh dalam kebingungan mu?
Beliau menyaksikan, … mengangguk penuh kasih, tidak membela diri, tidak menyalahkan mu, tidak mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu mu.
Para malaikat yang malu melihat perilaku mu, merasakan anggukan Tuhan Yang Maha Pengasih – dan bersegera turun mendampingi mu dalam kesedihan mu, dan menuntun mu untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan mu.
Dengan enggan engkau berjalan, tertatih, dan masih mengeluh.
Tetapi, segera wajah mu merekah dengan kegembiraan, karena engkau melihat sinar terang dari penyelesaian masalah mu, dan engkau melompat, dan engkau berlariiiiii gembira dan menariiiiii gembira, tanpa sedikit pun engkau menolehkan wajah mu ke arah Tuhan yang telah menyelamatkan mu.
Sebetulnya, waktu itu … jika engkau harus berterima kasih, kepada siapakah kau sampaikan terima kasih mu?
Apakah engkau tidak merasa kasihan kepada Tuhan yang setia memperhatikan kebaikan mu, tetapi yang sering kau abaikan?
Di manakah engkau harapkan Tuhan duduk, dan ke arah manakah wajah Tuhan kau harapkan menghadap, saat engkau menikmati hari-hari kemenangan mu?
Lalu, saat engkau memasuki masa-masa sedih dan pedih lagi, apakah yang kau harapkan Tuhan lakukan?
Apakah engkau akan memanggil-Nya lagi?
Untuk kau protes keadilan dan kasih sayang-Nya?
Untuk mendengar rintihan dan keluhan mu, yang getol sekali mengasihani dirinya sendiri, dan tidak menyediakan sedikit kejujuran untuk melihat kedalam kesalahan-kesalahannya sendiri?
………..
Adikku yang kemenangan hidupnya penting sekali bagi Tuhan,
Camkanlah ini,
Tuhan tidak butuh kau kasihani, tetapi apakah engkau tidak kasihan kepada Tuhan?
Tuhan tidak membutuhkan mu, tetapi engkau saaangat membutuhkan Tuhan.
Tuhan meminta mu berlaku baik kepada sesama, kepada binatang, kepada tanaman, dan kepada alam. Beliau meminta mu berlaku baik.
Apakah tak terpikir oleh mu bahwa engkau juga diharapkan untuk berlaku baik kepada Tuhan?
Dari semua hal yang bisa kau pikirkan untuk menjadi tempat curahan kebaikan mu, mengapakah engkau sering melupakan bahwa Tuhan adalah tempat curahan kebaikan mu yang akan paling membaikkan mu?
Jika engkau berlaku baik kepada Tuhan, tidak mungkin engkau tidak akan berlaku baik kepada apa pun dan siapa pun.
Dan dengannya, engkau akan dinaikkan ke kelas-kelas jiwa yang dihormati harapannya, yang direstui rencana-rencananya, dan yang ditenagai upaya-upayanya.
Apakah kira-kira perasaan mu, jika engkau termasuk kelompok jiwa, yang jika mencari sesuatu – yang kau cari itu diletakkan Tuhan tepat di depan mu, bahkan sebelum engkau melangkah?
Apakah kira-kira perasaan mu, jika engkau hanya cukup berharap, untuk kemudian terjadi apa yang kau harapkan?
Dan,
Apakah kira-kira perasaan mu, jika engkau bisa jelas melihat hubungan antara kebaikan yang kau lakukan dengan kebaikan yang kau terima?
Tidakkah engkau tertarik untuk diberikan indera yang melihat tindakan, mendengar harapan, dan merasakan perilaku Tuhan?
Maha besar Tuhan Yang Maha Pengasih.
………..
Adik ku yang hatinya mulia,
Haruskah ku ingatkan kepada mu bahwa kita tadi memulai pembicaraan ini mengenai kegelisahan mu?
Apakah engkau masih gelisah?
Apakah engkau sekarang tersenyum dalam keharuan?
Adik ku yang dikirimkan ibu mu kepada ku,
Engkau telah menyaksikan bagaimana kegelisahan bisa kau hilangkan dengan menjadikan hati mu lebih menyayangi Tuhan.
Terimalah ini dengan tulus, bahwa tidak ada yang tidak bisa kau capai dengan penyerahan diri dan kehidupan mu kepada Tuhan.
Jika kau serahkan diri mu kepada Tuhan, Tuhan-lah yang akan menetapkan peran dan tugas mu dalam kehidupan ini.
Dan jiwa yang tugasnya ditetapkan oleh Tuhan, tidak akan dibiarkan hidup dalam raga yang tidak terpelihara kebaikan dan kehormatannya.
………..
Sahabat saya yang memiliki bakat bagi keperwiraan yang gagah dan mulia,
Saya berharap agar Tuhan berkenan untuk menjadikan kita sahabat seperjuangan dalam memajukan kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan bagi kemanusiaan dan alam.
Marilah kita bersatu untuk menjadi pemimpin bagi penyejahteraan, pembahagiaan, dan pencemerlangan kehidupan kita sebagai bangsa yang mulia.
Marilah kita mulai dengan menjadikan diri kita pemulia kehidupan keluarga kita tercinta. Dari keluarga yang berbahagia lah, lahir dan tumbuh pemimpin-pemimpin bangsa yang jujur, yang tegas, dan yang mampu.
Engkau telah mengenal rasa gelisah ini – cukup lama.
Ia membuatmu tidak betul-betul melihat yang kau lihat, membuatmu tidak berada di mana engkau berada, membuatmu melamun dalam keriuhan dunia, dan membuatmu tak sabaran bahkan mengenai hal-hal penting yang akan menyelamatkan mu.
Engkau demikian gelisah, hingga engkau mendengar ada suara, tetapi tidak terdengar seperti suara yang ada artinya. Engkau terlibat, tetapi tidak turut serta.
Engkau sedang merasakan sesuatu yang pedih, tetapi tidak jelas apa yang dipedihkannya, dan untuk apa kepedihan itu.
Yang kau tahu hanyalah hati mu yang pedih. Pandangan mu yang abu-abu dan nanar. Pendengaran mu yang bergumam dengan gema celoteh orang yang dekat tetapi seperti jauh.
Dan dalam kegamangan itu, engkau terkadang berbicara – yang cepat sekali engkau lupa – apa yang kau katakan tadi, dan yang tak jelas apa perannya bagi pencerahan hidupmu.
Rasa yang tidak menenangkan ini sudah cukup lama kau kenal.
Dan setiap kali ia datang bertamu dan mencabut akar-akar ketenangan hatimu, engkau seperti terseret tak bertenaga, turut serta dalam penikmatan perasaan tak berdaya itu.
Engkau mentenagai kegelisahan mu dengan pembayangan kesulitan dan penderitaan yang akan kau alami,
… seolah-olah engkau sedang merencanakan kehidupan yang sulit di masa depan, dan yang kau yakini akan betul-betul terjadi.
………..
Adikku yang hatinya merindukan kasih sayang,
Sini …
Duduklah dekat-dekat dengan ku.
Beritahulah aku, apa yang menggelisahkan mu?
Jika sulit bagi mu untuk berbicara sekarang, bisikkanlah dekat-dekat ke telinga ku.
Aku bisa merasakan beban yang menggelantung dan menarik hati mu ke bawah.
Dan memang rasanya begitu, berat - tetapi tidak kau lihat bebannya, meremat dinding hatimu – tetapi tak kau lihat jemari yang kejam itu, mengiris kulit hatimu – tetapi tak jelas dari mana irisan itu berawal.
Yang kau tahu adalah bahwa engkau sedih. Sedih sekali,
… dan engkau berdiri sendiri dalam kesedihanmu.
………..
Adikku yang hatinya adalah hatiku,
dan yang pedihnya juga adalah pedih ku,
Angkatlah sedikit wajahmu, dan lihatlah aku melalui kebeningan air mata yang menggenang di pelupuk matamu …
Jika engkau memperhatikan, semua kepedihanmu bukanlah kepedihan baru.
Engkau telah pernah merasakannya, bahkan telah beberapa kali dalam hidup mu yang beragam warna itu.
Dulu, engkau pernah merasakan kepedihan yang sangat dalam, dan yang di dasar dari kepedihan itu engkau merintih, berontak, memprotes, dan menyalahkan kehidupan yang berlaku tidak adil kepada mu.
Pernah juga engkau marah kepada Tuhan.
Engkau menuduh-Nya tidak adil, tidak menyayangi mu, membedakan perlakuan untuk mu, dan Tuhan membahagiakan orang lain – bahkan yang tak sebaik diri mu.
Engkau demikian dalam tenggelam dalam kesedihan, dan dalam ketidak-berdayaan mu – bibir hatimu merintih dan melamatkan kata-kata permintaan tolong, yang mungkin tak kau tujukan kepada Tuhan, tetapi tetap juga didengar oleh Tuhan.
Dan kemudian engkau terselamatkan, keluar dari kesedihanmu, dan tertawa riang lagi, aktif terlibat dalam kehidupan, berhasil di sini, dipuji di situ, dan dipuja di sana.
Engkau menarikan kegembiraan hidup, … tanpa pernah menyadari bahwa engkau hanya bisa selamat karena diselamatkan.
Mungkin karena kebiasaan mu untuk melihat dirimu yang tidak penting - saat engkau bersedih, engkau tidak melihat hubungan antara rintihan dan keluhanmu saat bersedih, dengan penyelamatan mu saat itu.
Telah berapa kali-kah engkau diseruakkan keluar dari kesedihan dan penderitaan, dan berlari cepat menuju padang-padang hijau pembahagiaan mu, tanpa melambatkan sedikit langkah mu, dan menundukkan kepala mu, dan melirihkan suaramu, dan berhenti, dan berdiri khusuk … menyampaikan terima kasih kepada Tuhan, yang dengan demikian penuh kasih – mengeluarkan mu dari penderitaan.
Apakah engkau pernah menyempatkan diri untuk berlaku baik kepada-Nya setelah penyelamatan mu dari kesedihan-kesedihan mu dulu?
...........
Berlakulah baik juga kepada Tuhan.
Apakah engkau tidak kasihan kepada-Nya?
Beliau memang tidak butuh kau kasihani, tetapi apakah hatimu tidak merasakan kesemena-menaan mu kepada Tuhan?
Beliau itu sangat mengasihi mu. Sangat memperhatikan mu. Dan sangat memanjakan mu.
Apakah kira-kira perasaan Tuhan saat kau meronta dalam kemarahan mu, merintih dalam kesedihan mu, memprotes dalam kegelisahan mu, dan menuduh dalam kebingungan mu?
Beliau menyaksikan, … mengangguk penuh kasih, tidak membela diri, tidak menyalahkan mu, tidak mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu mu.
Para malaikat yang malu melihat perilaku mu, merasakan anggukan Tuhan Yang Maha Pengasih – dan bersegera turun mendampingi mu dalam kesedihan mu, dan menuntun mu untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan mu.
Dengan enggan engkau berjalan, tertatih, dan masih mengeluh.
Tetapi, segera wajah mu merekah dengan kegembiraan, karena engkau melihat sinar terang dari penyelesaian masalah mu, dan engkau melompat, dan engkau berlariiiiii gembira dan menariiiiii gembira, tanpa sedikit pun engkau menolehkan wajah mu ke arah Tuhan yang telah menyelamatkan mu.
Sebetulnya, waktu itu … jika engkau harus berterima kasih, kepada siapakah kau sampaikan terima kasih mu?
Apakah engkau tidak merasa kasihan kepada Tuhan yang setia memperhatikan kebaikan mu, tetapi yang sering kau abaikan?
Di manakah engkau harapkan Tuhan duduk, dan ke arah manakah wajah Tuhan kau harapkan menghadap, saat engkau menikmati hari-hari kemenangan mu?
Lalu, saat engkau memasuki masa-masa sedih dan pedih lagi, apakah yang kau harapkan Tuhan lakukan?
Apakah engkau akan memanggil-Nya lagi?
Untuk kau protes keadilan dan kasih sayang-Nya?
Untuk mendengar rintihan dan keluhan mu, yang getol sekali mengasihani dirinya sendiri, dan tidak menyediakan sedikit kejujuran untuk melihat kedalam kesalahan-kesalahannya sendiri?
………..
Adikku yang kemenangan hidupnya penting sekali bagi Tuhan,
Camkanlah ini,
Tuhan tidak butuh kau kasihani, tetapi apakah engkau tidak kasihan kepada Tuhan?
Tuhan tidak membutuhkan mu, tetapi engkau saaangat membutuhkan Tuhan.
Tuhan meminta mu berlaku baik kepada sesama, kepada binatang, kepada tanaman, dan kepada alam. Beliau meminta mu berlaku baik.
Apakah tak terpikir oleh mu bahwa engkau juga diharapkan untuk berlaku baik kepada Tuhan?
Dari semua hal yang bisa kau pikirkan untuk menjadi tempat curahan kebaikan mu, mengapakah engkau sering melupakan bahwa Tuhan adalah tempat curahan kebaikan mu yang akan paling membaikkan mu?
Jika engkau berlaku baik kepada Tuhan, tidak mungkin engkau tidak akan berlaku baik kepada apa pun dan siapa pun.
Dan dengannya, engkau akan dinaikkan ke kelas-kelas jiwa yang dihormati harapannya, yang direstui rencana-rencananya, dan yang ditenagai upaya-upayanya.
Apakah kira-kira perasaan mu, jika engkau termasuk kelompok jiwa, yang jika mencari sesuatu – yang kau cari itu diletakkan Tuhan tepat di depan mu, bahkan sebelum engkau melangkah?
Apakah kira-kira perasaan mu, jika engkau hanya cukup berharap, untuk kemudian terjadi apa yang kau harapkan?
Dan,
Apakah kira-kira perasaan mu, jika engkau bisa jelas melihat hubungan antara kebaikan yang kau lakukan dengan kebaikan yang kau terima?
Tidakkah engkau tertarik untuk diberikan indera yang melihat tindakan, mendengar harapan, dan merasakan perilaku Tuhan?
Maha besar Tuhan Yang Maha Pengasih.
………..
Adik ku yang hatinya mulia,
Haruskah ku ingatkan kepada mu bahwa kita tadi memulai pembicaraan ini mengenai kegelisahan mu?
Apakah engkau masih gelisah?
Apakah engkau sekarang tersenyum dalam keharuan?
Adik ku yang dikirimkan ibu mu kepada ku,
Engkau telah menyaksikan bagaimana kegelisahan bisa kau hilangkan dengan menjadikan hati mu lebih menyayangi Tuhan.
Terimalah ini dengan tulus, bahwa tidak ada yang tidak bisa kau capai dengan penyerahan diri dan kehidupan mu kepada Tuhan.
Jika kau serahkan diri mu kepada Tuhan, Tuhan-lah yang akan menetapkan peran dan tugas mu dalam kehidupan ini.
Dan jiwa yang tugasnya ditetapkan oleh Tuhan, tidak akan dibiarkan hidup dalam raga yang tidak terpelihara kebaikan dan kehormatannya.
………..
Sahabat saya yang memiliki bakat bagi keperwiraan yang gagah dan mulia,
Saya berharap agar Tuhan berkenan untuk menjadikan kita sahabat seperjuangan dalam memajukan kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan bagi kemanusiaan dan alam.
Marilah kita bersatu untuk menjadi pemimpin bagi penyejahteraan, pembahagiaan, dan pencemerlangan kehidupan kita sebagai bangsa yang mulia.
Marilah kita mulai dengan menjadikan diri kita pemulia kehidupan keluarga kita tercinta. Dari keluarga yang berbahagia lah, lahir dan tumbuh pemimpin-pemimpin bangsa yang jujur, yang tegas, dan yang mampu.
pada yang bisa
Melihatlah ke belakang, dan Anda akan banyak melihat hal yang tadinya tidak mungkin bagi Anda, tetapi sekarang telah Anda capai.
Sehingga sebetulnya, hal-hal yang sekarang Anda rasakan sebagai yang tidak mungkin itu,
adalah hal-hal yang belum Anda hidupi dengan wajar, yang nanti juga akan menjadi hal wajar yang mengisi kehidupan Anda di masa depan.
Maka inginkanlah yang besar.
Perhatikanlah bahwa;
Tingkat keinginan Anda ditentukan oleh penghormatan Anda kepada diri sendiri.
Berfokuslah pada yang bisa Anda kerjakan, bukan pada yang akan Anda dapat, lalu perhatikan apa yang terjadi.
Sehingga sebetulnya, hal-hal yang sekarang Anda rasakan sebagai yang tidak mungkin itu,
adalah hal-hal yang belum Anda hidupi dengan wajar, yang nanti juga akan menjadi hal wajar yang mengisi kehidupan Anda di masa depan.
Maka inginkanlah yang besar.
Perhatikanlah bahwa;
Tingkat keinginan Anda ditentukan oleh penghormatan Anda kepada diri sendiri.
Berfokuslah pada yang bisa Anda kerjakan, bukan pada yang akan Anda dapat, lalu perhatikan apa yang terjadi.
pikiran
Anda adalah penyebab bagi keberhasilan Anda sendiri.
Tuhan telah merancang sistem kehidupan ini agar Anda pasti berhasil, asal Anda bersedia menjadi pribadi yang baik.
Maka yakinlah bahwa,
Jika yang Anda pikirkan baik,
yang Anda katakan baik,
dan yang Anda lakukan baik,
Anda tidak mungkin salah.
Maka, janganlah Anda kecilkan nilai dari keinginan-keinginan Anda, hanya karena orang lain melihat keinginan Anda sebagai impian di siang hari.
Katakanlah kepada mereka yang kurang mengerti itu, bahwa impian yang paling berdampak adalah impian di saat mereka dan Anda – sedang terjaga.
Impian yang ada dalam tidur Anda, adalah pengindah tidur.
Tetapi, impian yang hadir dalam kerja keras Anda adalah tenaga yang menjadikan kehadiran Anda pengubah keadaan.
Maka,
Jagalah impian Anda tetap ada dan mendampingi kesadaran Anda, dan mentenagai upaya-upaya Anda untuk menjadi pelayan bagi keberhasilan semua jiwa yang bersentuhan dengan Anda.
Yang paling penting dalam sebuah olimpiade bukanlah meraih kemenangan, tetapi keikut-sertaan dalam olimpiade itu.
Dalam kesertaan itu-lah kita mempunyai kesempatan untuk menjadi pemenang.
Semua atlet di dunia mengetahui dengan pasti, bahwa untuk mencapai kualitas yang diijinkan untuk turut serta dalam sebuah olimpiade – bukanlah sesuatu yang mudah.
Kesertaan dalam sebuah olimpiade diperuntukkan bagi mereka yang berkelas pemenang.
Kehidupan ini memiliki kemiripan yang baik dengan sebuah olimpiade.
Sebagai pribadi Indonesia yang super, marilah kita menjadikan diri kita berkualitas. Jika mungkin – sangat berkualitas, agar kita bisa disertakan dalam lapangan yang sama dengan para pemenang.
Dalam kesertaan kita dalam perlombaan dengan para pemenang itulah, kita sudah sebetulnya berkelas pemenang yang memiliki kesempatan untuk menjadi juara di antara pemenang.
Mohon Anda sadari, bahwa untuk dapat berada dalam perlombaan yang sama dengan para pemenang,
sudah mengharuskan kita mencapai kualitas para pemenang.
Maka sebetulnya kita telah menjadi pemenang saat kita turut serta dalam perlombaan dengan para pemenang.
Maka janganlah berkecil hati mengenai kesempatan Anda untuk menang dalam olimpiade kehidupan ini. Hanya pastikanlah saja diri Anda turut serta dengan baik.
Pastikanlah Anda bekerja dengan kecintaan penuh pada jalur karir yang sekarang sedang Anda tekuni.
Pastikanlah Anda menjadi sangat ahli dalam pekerjaan Anda.
Dan janganlah keahlian Anda itu Anda tujukan untuk mengalahkan orang lain, tetapi untuk menjadikan Anda mencapai kelas-kelas pemenang, melalui pemenangan mereka yang Anda layani.
Seorang atlet kelas dunia tidak bekerja keras melatih dirinya untuk mengalahkan orang lain, dia bekerja keras untuk mencapai kualitas-kualitas yang belum pernah dicapainya sebelumnya.
Maka, Anda, bekerja keras-lah dengan fokus pada peningkatan kualitas diri Anda sendiri. Capailah kelas-kelas pemenang.
Karena, yang paling penting dalam olimpiade kehidupan ini, bukanlah meraih kemenangan, tetapi keikut-sertaan dalam kehidupan dengan kualitas seorang pemenang.
Tuhan telah merancang sistem kehidupan ini agar Anda pasti berhasil, asal Anda bersedia menjadi pribadi yang baik.
Maka yakinlah bahwa,
Jika yang Anda pikirkan baik,
yang Anda katakan baik,
dan yang Anda lakukan baik,
Anda tidak mungkin salah.
Maka, janganlah Anda kecilkan nilai dari keinginan-keinginan Anda, hanya karena orang lain melihat keinginan Anda sebagai impian di siang hari.
Katakanlah kepada mereka yang kurang mengerti itu, bahwa impian yang paling berdampak adalah impian di saat mereka dan Anda – sedang terjaga.
Impian yang ada dalam tidur Anda, adalah pengindah tidur.
Tetapi, impian yang hadir dalam kerja keras Anda adalah tenaga yang menjadikan kehadiran Anda pengubah keadaan.
Maka,
Jagalah impian Anda tetap ada dan mendampingi kesadaran Anda, dan mentenagai upaya-upaya Anda untuk menjadi pelayan bagi keberhasilan semua jiwa yang bersentuhan dengan Anda.
Yang paling penting dalam sebuah olimpiade bukanlah meraih kemenangan, tetapi keikut-sertaan dalam olimpiade itu.
Dalam kesertaan itu-lah kita mempunyai kesempatan untuk menjadi pemenang.
Semua atlet di dunia mengetahui dengan pasti, bahwa untuk mencapai kualitas yang diijinkan untuk turut serta dalam sebuah olimpiade – bukanlah sesuatu yang mudah.
Kesertaan dalam sebuah olimpiade diperuntukkan bagi mereka yang berkelas pemenang.
Kehidupan ini memiliki kemiripan yang baik dengan sebuah olimpiade.
Sebagai pribadi Indonesia yang super, marilah kita menjadikan diri kita berkualitas. Jika mungkin – sangat berkualitas, agar kita bisa disertakan dalam lapangan yang sama dengan para pemenang.
Dalam kesertaan kita dalam perlombaan dengan para pemenang itulah, kita sudah sebetulnya berkelas pemenang yang memiliki kesempatan untuk menjadi juara di antara pemenang.
Mohon Anda sadari, bahwa untuk dapat berada dalam perlombaan yang sama dengan para pemenang,
sudah mengharuskan kita mencapai kualitas para pemenang.
Maka sebetulnya kita telah menjadi pemenang saat kita turut serta dalam perlombaan dengan para pemenang.
Maka janganlah berkecil hati mengenai kesempatan Anda untuk menang dalam olimpiade kehidupan ini. Hanya pastikanlah saja diri Anda turut serta dengan baik.
Pastikanlah Anda bekerja dengan kecintaan penuh pada jalur karir yang sekarang sedang Anda tekuni.
Pastikanlah Anda menjadi sangat ahli dalam pekerjaan Anda.
Dan janganlah keahlian Anda itu Anda tujukan untuk mengalahkan orang lain, tetapi untuk menjadikan Anda mencapai kelas-kelas pemenang, melalui pemenangan mereka yang Anda layani.
Seorang atlet kelas dunia tidak bekerja keras melatih dirinya untuk mengalahkan orang lain, dia bekerja keras untuk mencapai kualitas-kualitas yang belum pernah dicapainya sebelumnya.
Maka, Anda, bekerja keras-lah dengan fokus pada peningkatan kualitas diri Anda sendiri. Capailah kelas-kelas pemenang.
Karena, yang paling penting dalam olimpiade kehidupan ini, bukanlah meraih kemenangan, tetapi keikut-sertaan dalam kehidupan dengan kualitas seorang pemenang.
perubahan
Sebuah perubahan besar tidak mungkin dicapai melalui kemapanan.
Itu sebabnya, sahabat saya yang tegas hatinya,
Anda tidak akan mencapai perubahan yang penting, dengan mempertahankan kenyamanan Anda sekarang.
Tidak ada satu orang pun yang bisa mengatakan bahwa dia sudah tidak membutuhkan peningkatan pada kualitas pribadi dan kehidupannya,
bagaimana pun berhasilnya dia dalam karir dan kehidupan pribadinya.
Tetapi, yang mengherankan adalah orang-orang yang giat mengeluhkan rendahnya kualitas kehidupan,
tetapi yang juga giat mendebat anjuran-anjuran baik mengenai pembudayaan sikap-sikap baru yang akan menjadikan mereka pengubah bagi nasib mereka sendiri.
Meskipun kedengarannya agak lucu,
tetapi mungkin mereka telah lama dan berhasil melatih diri mereka sendiri untuk menjadi terbiasa dengan keadaan yang kurang,
dan kemudian merasa mapan dalam kekurangan.
Sebagai pribadi Indonesia yang mulia,
Anda berkewajiban untuk membebaskan mereka dari kemapanan pada sesuatu yang tidak boleh dimapani.
Bantulah mereka menyadari, bahwa
Kekurangan dan kelemahan seperti apa pun, tetapi yang telah dirasakan sebagai sebuah kemapanan,
akan menjadi landasan yang kuat bagi penolakan untuk menerima cara-cara bersikap dan berpikir yang baru.
Dan yang lebih memprihatinkan kita,
adalah kenyataan bahwa
mereka menyalahkan orang lain atas keadaan yang mereka keluhkan itu,
tetapi bertahan dengan agresif jika mereka menengarai adanya inisiatif untuk mempengaruhi sikap dan cara-cara lama yang menaruh mereka kedalam keadaan yang mereka keluhkan itu.
Teladankanlah bagi mereka, bahwa
Anda dapat mengubah hidup Anda, dengan mengubah yang Anda kerjakan.
Dan,
Anda dapat meningkatkan kualitas hidup Anda, dengan meningkatkan kualitas dari cara-cara Anda.
Dan yang ini sangat penting untuk mereka terima sebagai gumam-an harian mereka, bahwa
Tidak ada pribadi yang sama lama-nya, yang berhak bagi kehidupan yang baru.
Memang mengherankan,
tetapi akan selalu ada orang yang menginginkan kehidupan yang baru,
tetapi yang justru menjadi orang pertama yang menolak untuk memperbarui diri.
Kemudian tambahkanlah, bahwa
Pekerjaan adalah sarana pembaikan hidup.
Sehingga, orang yang ingin memperbaiki kehidupannya,
harus memperbaiki pekerjaannya,
atau setidaknya memperbaiki cara-caranya dalam bekerja.
Karena,
Hanya pribadi yang baru, yang berhak bagi hidup yang baru.
Itu sebabnya, sahabat saya yang tegas hatinya,
Anda tidak akan mencapai perubahan yang penting, dengan mempertahankan kenyamanan Anda sekarang.
Tidak ada satu orang pun yang bisa mengatakan bahwa dia sudah tidak membutuhkan peningkatan pada kualitas pribadi dan kehidupannya,
bagaimana pun berhasilnya dia dalam karir dan kehidupan pribadinya.
Tetapi, yang mengherankan adalah orang-orang yang giat mengeluhkan rendahnya kualitas kehidupan,
tetapi yang juga giat mendebat anjuran-anjuran baik mengenai pembudayaan sikap-sikap baru yang akan menjadikan mereka pengubah bagi nasib mereka sendiri.
Meskipun kedengarannya agak lucu,
tetapi mungkin mereka telah lama dan berhasil melatih diri mereka sendiri untuk menjadi terbiasa dengan keadaan yang kurang,
dan kemudian merasa mapan dalam kekurangan.
Sebagai pribadi Indonesia yang mulia,
Anda berkewajiban untuk membebaskan mereka dari kemapanan pada sesuatu yang tidak boleh dimapani.
Bantulah mereka menyadari, bahwa
Kekurangan dan kelemahan seperti apa pun, tetapi yang telah dirasakan sebagai sebuah kemapanan,
akan menjadi landasan yang kuat bagi penolakan untuk menerima cara-cara bersikap dan berpikir yang baru.
Dan yang lebih memprihatinkan kita,
adalah kenyataan bahwa
mereka menyalahkan orang lain atas keadaan yang mereka keluhkan itu,
tetapi bertahan dengan agresif jika mereka menengarai adanya inisiatif untuk mempengaruhi sikap dan cara-cara lama yang menaruh mereka kedalam keadaan yang mereka keluhkan itu.
Teladankanlah bagi mereka, bahwa
Anda dapat mengubah hidup Anda, dengan mengubah yang Anda kerjakan.
Dan,
Anda dapat meningkatkan kualitas hidup Anda, dengan meningkatkan kualitas dari cara-cara Anda.
Dan yang ini sangat penting untuk mereka terima sebagai gumam-an harian mereka, bahwa
Tidak ada pribadi yang sama lama-nya, yang berhak bagi kehidupan yang baru.
Memang mengherankan,
tetapi akan selalu ada orang yang menginginkan kehidupan yang baru,
tetapi yang justru menjadi orang pertama yang menolak untuk memperbarui diri.
Kemudian tambahkanlah, bahwa
Pekerjaan adalah sarana pembaikan hidup.
Sehingga, orang yang ingin memperbaiki kehidupannya,
harus memperbaiki pekerjaannya,
atau setidaknya memperbaiki cara-caranya dalam bekerja.
Karena,
Hanya pribadi yang baru, yang berhak bagi hidup yang baru.
Langganan:
Postingan (Atom)